Faktor-faktor Penyebab Ketidakjujuran Mahasiswa

Jumat, 06 April 2012

Ketidakjujuran selalu dapat dihubungkan dengan setiap gejala kerusakan dimensi kehidupan seseorang. Perilaku korupsi misalnya, yang ditengarai akibat ketidakjujuran pejabat semakin bobrok. Begitu pula perilaku tidak jujur mahasiswa, ditengarai karena mahasiswa tidak mempunyai integritas. Integritas bukan kata atau istilah Indonesia, tetapi berasal dari bahasa inggris yang berarti “the quality of being honest and of always having high moral principles”. Yang pasti integritas menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia yang luhur dan berbudi. Integritas bertalian dengan moral yang bersih, kejujuran serta ketulusan terhadap sesama dan Tuhan YME. Integritas berlaku pada segala atau semua bidang kehidupan, misalnya bidang hukum, sosial, politik, ekonomi, dll.[1]
Saat ini budaya ketidakjujuran mahasiswa sangat sistemik. Semangat inovasi dan etos kerja para mahasiswa menunjukkan grafik yang menghawatirkan. Indikatornya sederhana, terdapat beberapa contoh budaya ketidakjujuran mahasiswa, misalnya:
1.      Mencontek
2.      Plagiasi (penjiplakan karya tulis)
3.      Titip absen

Pertama, budaya ketidakjujuran mahasiswa adalah mencontek. Berikut secara lengkap faktor-faktor penyebab mahasiswa mencontek dalam dunia akademik :[2]
Tabel 1
Faktor penyebab Mahasiswa Mencontek
No.
Aspek
Faktor Penyebab
1.
Pribadi
a.    Kurangnya rasa percaya diri pelajar dalam mengerjakan soal.
b.    ketidaksiapan belajar baik persoalan malas dan kurangnya waktu belajar.
c.    Orientasi pelajar pada nilai bukan pada ilmu. Sudah menjadi kebiasaan dan merupakan bagian dari insting untuk bertahan.
d.   pelajaran yang disampaikan kurang dipahami atau tidak mengerti dan sehingga merasa tidak puas oleh penjelasan dari guru/dosen.
e.    Terpengaruh oleh budaya instan yang mempengaruhi sehingga pelajar selalu mencari jalan keluar yang mudah dan cepat ketika menghadapi suatu persoalan termasuk test/ujian.
f.     Melihat beberapa mata pelajaran dengan kacamata yang kurang tepat, yakni merasa ada pelajaran yang penting dan tidak penting sehingga mempengaruhi keseriusan belajar.
2.
Pengajar (Guru/Dosen)
a.    Guru tidak mempersiapkan proses belajar mengajar dengan baik sehingga yang terjadi tidak ada variasi dalam mengajar dan pada akhirnya murid menjadi malas belajar.
b.    Guru terlalu banyak melakukan kerja sampingan sehingga tidak ada kesempatan untuk membuat soal-soal yang variatif. Akibatnya soal yang diberikan antara satu kelas dengan kelas yang lain sama atau bahkan dari tahun ke tahun tidak mengalami variasi soal.
c.    Soal yang diberikan selalu berorientasi pada hafal mati dari text book.
d.   Tidak ada integritas dan keteladan dalam diri guru berkenaan dengan mudahnya soal diberikan kepada pelajar dengan imbalan sejumlah uang.
3.
Orang Tua
a.    Adanya hukuman yang berat jikalau anaknya tidak berprestasi.
b.    Ketidaktahuan orang tua dalam mengerti pribadi dan keunikan masing-masing dari anaknya, sehingga yang terjadi pemaksaan kehendak.
4.
Sistem Pendidikan
a.    Meskipun pemerintah terus memperbaharui sistem kurikulum yang ada, akan tetapi sistem pengajarannya tetap tidak berubah, misalnya tetap terjadi one way yakni dari guru untuk siswa.
b.    Muatan materi kurikulum yang ada seringkali masih tumpang tindih dari satu jenjang ke jenjang lainnya yang akhirnya menyebabkan pelajar/siswa menganggap rendah dan mudah setiap materi. Sehingga yang terjadi bukan semakin bisa melainkan pembodohan karena kebosanan.
Sumber : Sujinal Arifin, 2009, Menyontek: Penyebab dan Penanggulangannya,   http://sujinalarifin.wordpress.com/2009/06/09/menyontek-penyebab-dan-penanggulangannya/, diakses pada 23 Maret 2012.

Dari beberapa faktor penyebab mahasiswa mencontek di atas, dapat dikatakan bahwa, mahasiswa memiliki masalah di perguruan tinggi dan konsep diri yang rendah. Maka sebagai guru/ dosen berkewajiban untuk memberikan motivasi untuk membiasakan bersikap jujur dalam setiap perbuatan yang dilakukan mahasiswa dan membangkitkan konsep percaya diri dan berusaha diri yang lebih baik.
Kedua, budaya ketidakjujuran mahasiswa adalah plagiasi. Ada empat hal faktor-faktor yang menyebabkan menjamurnya plagiasi yang dilakukan mahasiswa dalam dunia akdemik, yaitu :[3]
1.      Lembaga pendidikan cenderung permisif dengan praktik plagiasi. Lembaga akdemik tidak tegas memberikan hukumuan bagi plagiator. Lembaga kurang memperhatikan praktik plagiasi yang menjamur di lingkungannya. Akibatnya, mahasiswa seringkali menggunakan jalan pintas untuk menyelesaikan tugasnya
2.      Kurangnya penyuluhan tentang batasan-batasan plagiasi. Kecenderungan plagiasi mahasiswa lebih disebabkan ketidaktahuaannya. Mahasiswa belum banyak yang sadar akan pentingnya kemurnian karya ilmiah. Mahasiswa cenderung mengedepankan penyelesaian tugas dari pada kualitas tugas yang ia selesaikan. Akibatnya, menjiplak menjadi salah satu alternatif yang paling mudah dilakukan untuk menyelesaikan tugas. Batasan-batasan tentang plagiasi perlu ditegaskan secara terperinci, agar mahasiswa tidak salah memahami kutipan dan plagiat.
3.      Hukum belum begitu keras dan kedisiplinan akademik masih begitu lemah. Hukuman bagi plagiator belum sampai pada efek jera. Efek jera hanya bagi si pelaku, tapi bagi orang lain belum tersentuh. Sehingga banyak mahasiswa yang masih melakukan praktik menjiplak. Apalagi banyak plagiator yang tidak tercium jejaknya.
4.      Lemahnya sistem pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan belum mengarahkan mahasiswa pada tradisi membaca. Kesukaan membaca belum ditanamkan di kalangan mahasiswa. Tidak banyak mahasiswa yang suka dengan tradisi literasi. Mahasiswa lebih memahami hal-hal yang instan. Pemahaman tugas sebagai suatu kewajiban menjadikan mahasiswa mencari jalan-jalan instan. Tugas tidak dipahami sebagai perjalanan intelektual. Sebab pemahaman mahasiswa terhadap tugas, akan memengaruhi kekreatifitasannya.

Persoalan plagiasi disebabkan karena ketidakjujuran yang dilakukan mahasiswa. Menjamurnya praktik plagiasi karena tidak didasarkan pada integritas. Mahasiswa tidak memahami integritas secara komperehensif. Seharusnya mahasiswa berani jujur dengan karya ilmiah yang mereka buat. Mahasiswa harus berani jujur pada dirinya sendiri. Jika mendapatkan statamen dari orang lain, maka harus menyebutkan sumbernya. Sebab orisinalitas sebuah karya, itu merupakan suatu penemuan yang luar biasa dan harus dihormati. Dengan menyertakan kutipan sumber yang didapat, berarti kita sudah memberi penghargaan atas usaha penulisnya.
Namun dari segi peraturan-peraturan yang mengatur tentang plagiasi, masih perlu juga untuk ditegaskan. Di samping itu, masih banyak lembaga pendidikan yang kurang menghargai karya mahasiswanya. Antara karya yang baik dan jelek tidak ada bedanya. Minimnya apresiasi dari lembaga, juga menjadi pendorong praktik plagiasi di kalangan akademisi.
Ketiga, Budaya ketidakjujuran mahasiswa adalah titip absensi. Mahasiswa yang tidak hadir seakan-akan hadir karena adanya tandatangan palsu. Beberapa faktor penyebab mahasiswa nitip absensi, misalnya : [4]
1.      Malas masuk kelas.
2.      Ada tugas yang belum selesai jadi mengerjakan tugas tersebut dan tidak ikut kuliah.
3.      Tugas belum selesai, takut ditagih dosen.
4.      Telat masuk kelas, malas.
5.      Dosennya tidak enak, membosankan.

Budaya titip absen sudah menjadi kebiasaan di kalangan mahasiswa, hal yang sudah biasa terjadi dan tidak aneh lagi. Tapi hal ini tidak patut untuk dicontoh, mungkin bagi sebagian dosen atau mahasiswa, masalah titip absen tidak penting dan itu hal yang kecil, tidak perlu dipermasalahkan. Namun sekecil-kecilnya ketidakjujuran lama-lama menjadikan seorang individu tidak jujur. Alangkah baiknya jika tidak hadir baik sakit atau izin katakan dengan sejujurnya, kalau sakit seharusnya ditulis sakit, kalau izin juga seharusnya ditulis izin. Presentasi kehadiran mahasiswa dirasa sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Dosen tidak hanya menilai dari tugas-tugas atau ujian saja. Rajin atau tidaknya mahasiswa terlihat juga dari absensi. [5]
Sederet alasan lain tentu ada, diantaranya mahasiswa makin malas mengerjakan tugas, malas menulis paper, malas membeli buku (bahkan untuk sekadar ke perpustakaan yang gratis itu), sering terlambat masuk ruang kuliah, dan mudah menyerah jika skripsinya dibenahi oleh dosen.


[1] . J.E Sahetapy, 2011, Amburadulnya Integritas, (Jakarta: Komisi Hukum Nasional RI), Hal. Xv-xvi.
[2] .  Sujinal Arifin, 2009, Menyontek: Penyebab dan Penanggulangannya, http://sujinalarifin.wordpress.com/2009/06/09/menyontek-penyebab-dan-penanggulangannya/, diakses pada 23 Maret 2012.
[3] .  M. Abdul Rohim, 2011, Plagiasi: Cermin Akademik Kita, http://www.paradigmainstitute.com/paradigma/news/bidikan-utama/plagiasi-cermin-akademik-kita.html, di Akses pada 21 Maret 2012.
[4] . Fitri Haryanti Harsono Saidil Anwar, 2011, Budaya “Nitip Tandatangan Ala Mahasiswa”,  http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/13/budaya-nitip-tandatangan-ala-mahasiswa/, di Akses pada 21 Maret 2012.
[5] . Ibid.

0 komentar:

Poskan Komentar